Macro Micro News Global Pulse. Local Truth.

Cara Ekstrak Jeruk 500 mg Meningkatkan Lompatan dan Kekuatan Pemain Basket Wanita

15 September 2026 · 2 min read

We compile, generate and translate using Artificial Intelligence from the below given source. Macro Micro News is responsible for its editorial publication.

Article image by cottonbro studio
Image by cottonbro studio

León, Spanyol, Sumber:

Di dunia basket wanita yang kompetitif, para atlet terus mencari peningkatan kecil yang bisa menentukan kemenangan. Penelitian terbaru yang diterbitkan pada September 2026 oleh peneliti dari Universidad de León dan Universidad Isabel I menyoroti salah satu strategi tersebut. Studi ini menguji apakah 2S-hesperidin, sebuah polifenol turunan jeruk, dapat berfungsi sebagai peningkat performa akut tanpa menambah beban fisiologis.

Penelitian ini melibatkan dua belas pemain basket wanita tingkat 3 hingga 4 dengan desain acak silang single-blind. Peserta mengonsumsi 500 mg Cardiose®, suplemen standar 2S-hesperidin, atau plasebo lima jam sebelum pengujian. Waktu ini dipilih berdasarkan data farmakokinetik yang menunjukkan kadar metabolit hesperidin mencapai puncaknya pada periode tersebut. Para atlet kemudian menjalani serangkaian tes kebugaran ketat. Tes tersebut meliputi kekuatan genggaman tangan, lompatan countermovement, lompatan drop, waktu sprint, latihan kelincahan, dan tes kebugaran intermiten 30-15.

Setelah tes selesai, para pemain mengikuti sesi latihan lapangan selama 90 menit. Selama latihan, peneliti memantau beban internal seperti detak jantung dan tingkat kelelahan subjektif. Mereka juga mencatat variabel beban eksternal seperti jarak tempuh dan akselerasi menggunakan sistem pemosisian lokal. Pendekatan komprehensif ini memungkinkan peneliti mengamati perubahan performa langsung serta upaya berkelanjutan selama permainan berlangsung.

Hasilnya menunjukkan perbaikan signifikan pada parameter neuromuskular utama saat peserta mengonsumsi suplemen 2S-hesperidin dibandingkan plasebo. Kekuatan genggaman tangan dominan meningkat sebesar 2,8 persen. Tinggi lompatan countermovement naik 8,5 persen. Tinggi lompatan drop pada kaki dominan bertambah 5,7 persen. Kecepatan akhir yang dicapai dalam tes 30-15 IFT juga meningkat 4,1 persen. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa suplementasi akut dapat memperkuat produksi gaya maksimal dan daya ledak. Kedua kualitas ini sangat penting untuk melompat, kontak fisik, dan kontrol bola.

Namun, tidak semua aspek kebugaran atlet merespons secara sama. Tidak ada perbedaan signifikan yang terlihat pada kecepatan sprint linier, kelincahan, atau indeks kekuatan reaktif. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat 2S-hesperidin bersifat spesifik dan tidak universal untuk semua aspek performa atletik. Pelatih dan atlet perlu memahami atribut mana yang paling responsif terhadap intervensi ini.

Temuan menarik muncul terkait permintaan kardiovaskular. Variabel beban eksternal seperti total jarak dan metrik akselerasi tetap konsisten di kedua kondisi. Namun, detak jantung rata-rata secara signifikan lebih rendah pada kelompok suplementasi selama sesi latihan. Penurunan detak jantung untuk beban kerja yang serupa mengisyaratkan potensi peningkatan efisiensi metabolisme atau fungsi vaskular. Ketersediaan bio nitrat oksida dan kesehatan endotel yang terkait dengan asupan hesperidin kemungkinan menjadi pendorong penanda fisiologis positif ini.

Para penulis memperingatkan bahwa ukuran sampel kecil dan sifat eksploratif analisis ini memerlukan validasi lebih lanjut pada kohort yang lebih besar. Meski demikian, penelitian ini menegaskan tren berkembang dalam nutrisi olahraga. Polifenol kini diperiksa untuk peningkatan performa akut, bukan hanya pemulihan. Bagi atlet tim wanita, 2S-hesperidin menawarkan strategi terarget untuk meningkatkan kemampuan eksplosif dan intermiten sambil berpotensi mengelola stres internal. Seiring komunitas olahraga mencari metode berbasis bukti untuk mengoptimalkan performa, wawasan mendalam tentang senyawa semacam ini semakin berharga bagi mereka yang ingin meraih keunggulan kompetitif.