Macro Micro News Global Pulse. Local Truth.

Saksikan Gerhana Matahari Agustus 2026 dalam 3 Dimensi, Pandangan NASA dari Darat, Udara, dan Luar Angkasa Menyingkap Korona

22 August 2026 · 3 min read

We compile, generate and translate using Artificial Intelligence from the below given source. Macro Micro News is responsible for its editorial publication.

Article image by Jesús Esteban San José
Image by Jesús Esteban San José

Sumber: Washington, D.C.

Pada 12 Agustus 2026, Bulan bergerak tepat di antara Matahari dan Bumi. Selama beberapa menit yang tak terlupakan, gerhana matahari total mengubah cahaya siang menjadi senja di Greenland, Islandia, dan Spanyol. Bagaimana momen seperti ini terlihat dari setiap sudut yang mungkin? NASA dan para mitranya berusaha menjawab pertanyaan itu. Para fotografer, pilot, astronot, dan tim pelajar semuanya berkontribusi pada pandangan multidimensi yang langka dari gerhana ini.

Di darat Spanyol, fotografer NASA Bill Ingalls memilih kota kecil San Millán de los Caballeros sebagai sudut pandangnya. Ia melacak Matahari melalui gerhana total hingga fase parsial terakhir sebelum matahari terbenam. Gambar kompositnya menunjukkan Matahari yang mengalami gerhana tenggelam di cakrawala, dengan satu urutan yang sangat indah di atas ladang bunga matahari. Satu bingkai menampilkan korona dengan detail yang halus. Bingkai lain menangkap prominensa matahari berwarna merah muda, gumpalan gas bermuatan listrik yang ditahan oleh gaya magnet di sepanjang tepi Matahari yang gelap. Hasilnya bersifat ilmiah sekaligus sangat artistik.

Lebih jauh ke utara, di Maine, langit hanya menampilkan gerhana parsial. Hal itu menambah lapisan drama pada pemandangan tersebut. Seorang fotografer NASA menangkap sesuatu yang langka, yaitu Stasiun Luar Angkasa Internasional yang melintas di depan Matahari yang mengalami gerhana parsial. Urutan itu terdiri dari 12 bingkai dan menampilkan stasiun dalam siluet yang jelas, bergerak dengan kecepatan sekitar lima mil per detik. Ada tujuh kru di dalamnya saat itu. Mereka adalah bagian dari Ekspedisi 75, termasuk astronot NASA Jessica Meir, Anil Menon, dan Jack Hathaway, astronot ESA Sophie Adenot, serta kosmonot Roscosmos Pyotr Dubrov, Andrey Fedyaev, dan Anna Kikina. Awan menutupi sebagian Matahari, tetapi lintasan itu tetap terlihat dengan kejelasan yang menakjubkan.

Dari ketinggian sekitar 250 mil di atas Bumi, gerhana terlihat berbeda lagi. Astronot NASA Jessica Meir mengambil foto gerhana parsial dari Stasiun Luar Angkasa Internasional saat stasiun itu terbang 262 mil di atas Quebec selatan, Kanada. Pada puncaknya, Bulan menutupi sekitar 18 persen Matahari. Delapan belas persen mungkin terdengar kecil. Dari orbit, pemandangan itu terasa luas dan tenang, mengingatkan bahwa gerhana dari luar angkasa lebih dari sekadar versi yang lebih kecil dari apa yang kita lihat dari darat.

Di antara darat dan stasiun luar angkasa, para pilot NASA menerbangkan jet riset WB-57F hingga ketinggian 50.000 kaki. Dari sana, jet itu mencegat bayangan gerhana dan memperpanjang waktu berada dalam fase total. Seperangkat kamera di dalamnya merekam korona dan prominensa dalam cahaya tampak dan inframerah. Tim sains yang dipimpin oleh Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, akan mempelajari gambar-gambar itu dengan saksama. Mereka berharap dapat mempelajari bagaimana atmosfer terluar Matahari menciptakan dan membentuk struktur-struktur yang tampak begitu cemerlang selama fase total.

Tim pelajar yang didukung oleh Proyek Balon Gerhana Nasional yang didanai NASA meluncurkan balon-balon ilmiah dari Islandia dan Spanyol. Di tempat awan menghalangi pandangan dari darat, instrumen balon tetap mengumpulkan data tentang bagaimana hilangnya sinar matahari dan panas secara tiba-tiba memengaruhi atmosfer bawah. Satu kamera dari balon yang diluncurkan di Spanyol menangkap bayangan Bulan yang menyapu atmosfer. Sudut pandang itu mengubah gerhana menjadi tontonan sudut lebar dan menunjukkan bagaimana peristiwa itu melampaui jalur sempit totalitas.

Sebelum gerhana, para ilmuwan membuat prediksi tentang seperti apa korona nantinya. Mereka menggunakan pengamatan dari wahana antariksa NASA, teleskop berbasis darat, dan superkomputer. Belakangan, mereka membandingkan model itu dengan gambar komposit yang diambil di dekat León, Spanyol, oleh tim DEB Initiative yang didukung NASA. Hasilnya mengesankan. Ini menunjukkan betapa akuratnya pemodelan matahari saat ini dan seberapa banyak lagi yang bisa kita pelajari tentang atmosfer luar Matahari yang terus berubah.

Selama beberapa bulan ke depan, para peneliti akan menganalisis setiap gambar dan kumpulan data dari 12 Agustus. Pengamatan ini akan memperkaya pemahaman kita tentang Matahari dan kaitannya dengan Bumi. Pengamatan ini juga akan memandu persiapan untuk gerhana matahari total besar berikutnya pada 2 Agustus 2027, yang terlihat dari Spanyol selatan dan Afrika utara. Jika satu gerhana bisa diabadikan sedalam ini, gerhana berikutnya mungkin akan lebih banyak mengungkapkan.