Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Tiga Aktivis Muda tentang Menangani Diskriminasi, Kekerasan Senjata, dan Privasi Digital?
We compile, generate and translate using Artificial Intelligence from the below given source. Macro Micro News is responsible for its editorial publication.
Global, Koresponden MMN. Apa yang diperlukan seorang anak muda untuk mengubah pengalaman menyakitkan menjadi kekuatan untuk perubahan? Bagi para aktivis yang tampil dalam proyek Digital Disruptors dari Amnesty International, jawabannya dimulai dari sejarah pribadi dan dengan cepat tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Pada Hari Pemuda Internasional, kisah mereka menunjukkan bagaimana diskriminasi, kekerasan senjata, dan privasi digital ditangani oleh orang-orang yang paling memahami tantangan ini, yaitu anak muda itu sendiri.
Di Guatemala, Pablo Mendoza yang berusia 24 tahun tahu rasanya ditinggalkan tanpa dukungan. Ia keluar sebagai gay pada usia 15 tahun dan menghadapi penolakan dari orang-orang di sekitarnya. Untuk waktu yang lama, ia merasa terisolasi dan sendirian, tanpa informasi atau jaringan yang membantunya memahami identitasnya sendiri. Pengalaman itu melekat padanya. Kini Mendoza memimpin bersama Disruptorxs, sebuah platform digital yang dibangun oleh 14 anak muda dari berbagai penjuru negeri. Platform ini menawarkan sumber daya kesehatan mental, informasi kesehatan seksual, dan kisah pribadi yang mencerminkan kehidupan nyata anak muda LGBTIQ+ yang tinggal di pinggiran kota. Mendoza percaya bahwa representasi bukan sekadar simbol. Ketika anak muda melihat realitas mereka sendiri tercermin dalam konten yang mudah diakses, menjadi lebih mudah untuk membayangkan jalan ke depan. Harapannya sederhana. Jika satu anak muda menemukan dukungan yang tidak ia miliki di usia 15 tahun, proyek itu sudah membuat perbedaan.
Di Swedia, Dina Alami menemukan titik balik yang berbeda. Setelah kehilangan orang terdekat akibat kekerasan senjata, ia ikut mendirikan Kollectiv Sorg, yang berarti Duka Kolektif. Apa yang bermula sebagai surat terbuka tentang kejahatan jalanan berubah menjadi kelompok anak muda, lalu menjadi gerakan yang lebih luas. Alami dan rekan-rekannya ingin menantang cara masyarakat berbicara tentang kekerasan senjata. Alih-alih hanya berfokus pada statistik, mereka mendorong orang untuk melihat kehidupan manusia di balik setiap berita utama. Mereka menciptakan Collective Talks, sebuah kelompok dukungan sebaya untuk kerabat para korban. Kelompok ini memberi ruang bagi orang untuk berbagi duka tanpa penilaian. Kelompok ini juga menyelenggarakan pameran publik dan diskusi di Stockholm, sehingga tercipta ruang untuk percakapan sulit tentang keselamatan dan harapan. Bagi Alami, duka tidak harus tetap menjadi urusan pribadi. Duka bisa diubah menjadi tindakan, dan kasih sayang bisa menjadi bentuk kepemimpinan.
Di Kenya, Christopher Arunga belajar tentang privasi digital dengan cara yang paling langsung. Informasi pribadinya sendiri disebarkan secara online tanpa izin. Tangkapan layar nama, foto, dan alamat rumahnya muncul di situs web dan pemberitaan media. Pelanggaran itu menginspirasinya untuk ikut mendirikan Linda Data, sebuah kampanye yang dalam bahasa Kiswahili berarti Lindungi Data. Kampanye ini dimulai saat lima aktivis muda bertemu di sebuah lokakarya Digital Disruptors dan mensurvei ratusan anak muda Kenya tentang kekhawatiran digital mereka. Akses tidak sah ke data pribadi muncul berulang kali. Kenya adalah salah satu negara dengan penduduk termuda dan konektivitas digital tertinggi di kawasan ini. Anak muda menggunakan media sosial untuk pendidikan, komunikasi, dan aktivisme. Platform yang sama itu juga bisa membuat mereka terpapar perundungan siber, penipuan, dan eksploitasi data. Linda Data bekerja langsung dengan anak muda melalui kunjungan ke kampus, percakapan komunitas, dan kampanye online. Tujuannya adalah membantu mereka memahami hak digital, persetujuan berdasarkan informasi, dan privasi. Arunga memandang hak digital terkait dengan keselamatan pribadi, kesehatan mental, dan kebebasan berekspresi.
Ketiga kisah ini adalah bagian dari pergeseran yang lebih besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan ada 1,2 miliar anak muda berusia 15 hingga 24 tahun, atau 16% dari populasi dunia. Banyak dari mereka sudah mengerjakan solusi untuk masalah yang paling mereka pedulikan. Proyek Digital Disruptors mendukung upaya ini dengan menawarkan pelatihan, sumber daya, dan platform untuk advokasi yang dipimpin anak muda. Proyek ini mengakui bahwa orang yang paling terdampak oleh suatu masalah sering kali adalah orang yang paling siap untuk menyelesaikannya.
Masalah yang ditangani para aktivis ini nyata dan mendesak. Di Guatemala, orang LGBTIQ+ terus menghadapi tingkat diskriminasi yang tinggi. Laporan tahun 2020 dari Human Rights Campaign mendokumentasikan sedikitnya 30 orang LGBTIQ+ yang kehilangan nyawa di negara itu antara tahun 2018 dan 2020. Di Swedia, kekerasan senjata menjadi perhatian nasional. Dewan Nasional Swedia untuk Pencegahan Kejahatan mencatat kenaikan jumlah penembakan mematikan dari 17 pada 2013 menjadi 45 pada 2022. Di Kenya, privasi digital menjadi isu yang semakin berkembang. Laporan tahun 2021 dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya menyoroti kasus pengawasan dan kebocoran data.
Yang menonjol dari kisah-kisah ini adalah rasa kemungkinan. Mendoza mengatakan pengetahuan bersama yang ia temukan bersama aktivis lain tetap melekat padanya. Alami menunjukkan bahwa duka bisa mempertemukan orang-orang yang mungkin tidak akan pernah saling bertemu. Arunga percaya bahwa anak muda yang berpengetahuan menjadi warga digital yang percaya diri. Masing-masing dari mereka menunjukkan bagaimana saling mendengarkan dan bertindak bersama dapat menciptakan perubahan yang bermakna.
Pekerjaan mereka juga menunjuk pada perubahan yang lebih dalam yang dibutuhkan di lembaga dan kebijakan. Alami berargumen bahwa percakapan bermakna tentang keselamatan perlu mencakup isu-isu seperti ketimpangan dan rasisme. Mendoza mencatat bahwa informasi hanya berarti jika sampai ke orang yang paling membutuhkannya. Arunga menyerukan akuntabilitas yang lebih besar dari perusahaan teknologi dan lembaga yang mengumpulkan data pribadi.
Para aktivis ini tidak menunggu izin untuk memimpin. Mereka sudah menunjukkan seperti apa solusi yang dipimpin anak muda dalam praktik. Pekerjaan mereka adalah pengingat bahwa perubahan terjadi ketika orang berkumpul, berbagi pengetahuan, dan mengambil tindakan. Generasi muda tidak hanya mempersiapkan masa depan. Mereka sedang membentuknya sekarang juga.