Melampaui PDB: Alasan $20 Triliun untuk Menempatkan Alam di Neraca Negara
We compile, generate and translate using Artificial Intelligence from the below given source. Macro Micro News is responsible for its editorial publication.
Nairobi, Koresponden MMN: Apa yang membuat sebuah bangsa benar-benar kaya? Selama beberapa dekade, jawabannya adalah satu angka: produk domestik bruto. Angka itu membentuk pajak Anda, pasar kerja Anda, dan prioritas pemerintah Anda. Perubahan yang lebih tenang sedang terjadi di kalangan ekonomi, yang mungkin mengubah cara kesejahteraan dipahami. Idenya adalah menempatkan alam itu sendiri di neraca.
Kisahnya dimulai pada tahun 1934. Simon Kuznets, yang kemudian menjadi pemenang Nobel, menyampaikan makalah kepada Kongres AS dengan tujuan sederhana: mengukur output ekonomi negara setelah Depresi Besar. Alat yang ia ciptakan menjadi PDB. Ini memberi pemerintah cara yang jelas untuk melacak produksi, perdagangan, dan konsumsi. Kuznets sendiri berhati-hati. Ia menulis bahwa kesejahteraan suatu bangsa "sulit untuk disimpulkan dari ukuran pendapatan nasional." Peringatan itu disimpan, dan PDB tumbuh menjadi statistik paling berpengaruh di dunia.
Saat ini, PDB berada di pusat kebijakan. Kampanye pemilu naik dan turun dengan angka pertumbuhan kuartalan, dan rencana fiskal bertujuan menjaga angka itu terus naik. Di samping fokus ini, jenis kekayaan lain sebagian besar tetap tidak terlihat. Hutan yang menyaring air, lahan basah yang menyerap banjir, tanah yang menumbuhkan makanan, dan serangga yang menyerbuki tanaman semuanya berkontribusi pada kehidupan ekonomi. Mereka tidak muncul di mana pun dalam PDB. Mereka hanya mendukung setiap kolom yang ada.
Sinyal dari planet ini semakin jelas. Pada tahun 2025, Program Lingkungan PBB menerbitkan penilaian tentang risiko iklim dan kemakmuran ekonomi. Laporan itu menemukan bahwa perubahan iklim yang berkelanjutan dapat mengurangi PDB global hingga 20 persen pada tahun 2100. Temuan itu tidak termasuk kisah-kisah manusia di balik angka-angka tersebut, seperti komunitas yang mendesain ulang garis pantai mereka atau petani yang menanam kembali setelah kekeringan. Ini langsung menunjuk pada peluang: melindungi sistem alam juga melindungi stabilitas ekonomi.
Steven Stone tumbuh pada tahun 1970-an dan 80-an di tengah hutan kayu keras di timur laut Amerika Serikat. Hutan-hutan itu meninggalkan kesan yang mendalam padanya. Hari ini, sebagai direktur pelaksana Kantor Sains UNEP, ia melihat hubungan yang jelas antara pengalaman pribadi dan kebijakan publik. "Dengan setiap hutan yang kita tebang habis dan setiap ons bahan bakar fosil yang kita bakar, PDB naik," kata Stone. "Melalui tindakan-tindakan itu, kita mengikis alam, yang memasok kita dengan makanan, air, obat-obatan, udara bersih, dan banyak kebutuhan penting lainnya."
Jawabannya, menurut banyak ekonom, terletak pada akuntansi modal alam. Metode ini memberikan nilai moneter pada layanan yang disediakan oleh alam. Ini membuat yang tak terlihat menjadi terlihat. Hutan menjadi lebih dari sekadar kayu. Ia menjadi pemurni air, penyimpan karbon, dan rumah bagi satwa liar. Menambang gunung secara terbuka dapat meningkatkan pendapatan jangka pendek. Transaksi penuh juga mencakup hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas air, dan berkurangnya penyimpanan karbon. Dengan akuntansi modal alam, biaya-biaya itu masuk ke dalam percakapan.
Beberapa orang bertanya apakah benar untuk memberi harga pada spesies atau lanskap. Itu pertanyaan yang adil. Stone menunjukkan bahwa PDB sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk disempurnakan. Akuntansi modal alam lebih muda, dan metodenya masih berkembang. Ini sudah bergerak dari teori ke praktik. Negara-negara sedang mengujinya, perusahaan-perusahaan melaporkannya, dan kerangka kerja global mulai memasukkannya.
Kosta Rika menunjukkan seperti apa ini dalam praktik. Negara itu menghabiskan beberapa dekade melindungi hutan dan garis pantainya. Investasi itu menciptakan ekonomi ekowisata yang kuat dan membantu negara mencapai status berpenghasilan tinggi. Hasilnya menawarkan pelajaran praktis: ketika alam diperlakukan sebagai aset, ia dapat menghasilkan keuntungan yang bersifat lingkungan dan finansial.
Skala peluang itu besar. Pada tahun 2025, Global Environment Outlook 7 menemukan bahwa menstabilkan iklim, mengurangi polusi, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Tindakan yang sama dapat menghasilkan manfaat ekonomi senilai 20 triliun dolar AS setiap tahun pada tahun 2070. Itu adalah kasus investasi inti untuk alam.
Mengubah cara kekayaan diukur membutuhkan waktu. PDB terkait erat dengan anggaran, suku bunga, dan perbandingan internasional. Tugasnya adalah memperluas dasbor dan menambahkan akun alam di samping produksi. Alat dan data tersedia. Yang penting sekarang adalah pilihan kolektif untuk menggunakannya.
Dunia di luar PDB sudah terlihat di tempat-tempat yang menghargai sungai, hutan, dan lahan pertanian mereka. Ini adalah dunia di mana neraca suatu negara mencantumkan udara bersih dan tanah yang sehat sebagai aset. Ini adalah dunia di mana kemajuan berarti komunitas yang lebih kuat dan ekosistem yang lebih tangguh. Stone mengatakannya dengan tegas: "Apa pun yang kurang dari itu adalah kekayaan yang kosong dan pada akhirnya berumur pendek." Pilihan tentang apa yang dianggap sebagai kekayaan akan membentuk masa depan. Menghitung alam mungkin menjadi langkah paling produktif yang dapat diambil suatu bangsa.